Senin, 24 November 2014

Semua Ada Prosesnya

         Well, aku selalu sepi kerjaan karena proyek yang juga sedang sepi. Setiap hari yang aku lakukan hanyalah online online dan online (ketauan banget anak males  yak hihi). Tapi itu jadi keuntungan buatku sendiri, sambil online, sambil aku searching2 all about pernikahan. Yaps.. Pernikahan.. Meskipun belum tahu tanggalnya, tapi ada rencana tahun depan jika Allah merestui. Alhamdulillah, beberapa bulan lalu ortu Adit sudah bicara secara langsung padaku bahwa mereka telah siap menerimaku sebagai calon anggota keluarga mereka. Mereka banyak bertanya apa yang aku dan keluargaku inginkan untuk membuktikan keseriusan Adit padaku. Diawal, Ibukku meminta untuk adanya pertemuan antara kedua belah pihak keluarga untuk sekedar saling berkenalan satu sama lain. Itupun rencananya akhir tahun 2014 ini dimana ada tanggal merah disitu. Semoga semua dapat berjalan dengan baik, semua dapat terlaksana, tak ada halangan berarti dan kedua belah pihak dapat menerimanya. Aamiin..

          Sampai saat itu tiba, yang membuat aku juga lega adalah Adit yang mulai menabung, aku juga tentunya, Adit yang mulai ikut searching2 souvenir dan gedung juga catering. Adit yang mulai sering mengajak aku bicara tentang pernikahan seperti apa yang menjadi impiannya. Jujur semua itu membuatku lega, karena itu berarti dia mulai yakin dengan keberadaanku disampingnya. Sudah banyak gedung yang kami searching untuk mengetahui dulu budget harga sewanya, lalu souvenir yaa karena aku sangat suka membuat sesuatu, Insha Allah souvenir adalah buatan tanganku sendiri jika memang buatanku layak di jadikan souvenir. Mungkin kami akan menentukan gedung mana yang akan dipilih dulu sebelum menentukan catering dekor dan rias pengantin, karena gedung menentukan segalanya.

          Aku dan Adit yang belum menentukan tepatnya kapan menikah saja sudah merasa ribet dan pusing, apalagi  yang sudah pasti ya. hehe.. Ya semua wajar adanya, karena kami ingin pernikahan kami tidak mewah namun tetap memberikan kepuasan pada undangan yang sudah repot2 untuk datang. Mungkin terkadang kemauan Adit yang agak gak masuk akal yg membuatku sedikit kesal. Contohnya saja, pertemua keluarga apa bisa d Tegal? kalau menikah di Tegal bahkan gedung sekalipun budget tidak akan terlalu besar. Yaaa... itu karena keluarganya asli sana, tapi aku? memang banyak juga saudara disana, asliku ya di jakarta sini. Hemm.. Semoga Adit lebih mengerti akan kondisi itu..

          Meskipun aku masih muda, bukan berarti aku ingin buru2 menikah, aku rasa tahun depan adalah waktu yang pas untuk kami. Jika memang bisa lebih cepat, mengapa tidak? toh kami menikah untuk Allah, kami menikah mengharap RidhaNya, kami menikah untuk sunnah Rasul. Namun semua ada prosessnya, proses itulah yg menjadi ujian bagi kami. Insha Allah meskipun aku sudah menikah, Ibu tetap menjadi prioritasku, aku tak ingin menjadi anak durhaka, meskipun ketika anak perempuan telah keluar dari rumahnya dan telah berkeluarga, dan sudah tidak menjadi hak ortunya, aku tak ingin seperti itu. Sampai kapanpun surga akan selalu ada di telapak kaki ibu. Memang aku belum bisa membahagiakannya dan membuatnya bangga, tapi aku ingin selalu ada untuk ibu, dan selalu memikirkan ibu. Sampai selamanya. Semoga aku diberikan suami yang mau menerima segala bentuk kekuranganku dan mau melengkapinya. Semoga kelak kami dijodohkam, kami dijadikan satu dalam ikatan pernikahan yang suci. Kami dapat menjadi 2 keluarga yang utuh dan bahagia. Dan yang terpenting juga, keluarga kedua belah pihak merestui dna meridhai kami. Ya Allah,, lancarakan, mudahkan, tambahkan rezeki kami. Semoga semua dapat berjalan dengan baik. Aamiin...

Senin, 29 September 2014

Bapak Tua Renta dan Becaknya

          Hari itu aku sedang liburan di kota kelahiran Ibukku yaitu di Tegal, kota yang terletak di Jawa Tengah. Aku ke Tegal bersama dengan kakak dan iparku untuk menghadiri acara pernikahan salah satu saudara kami. Sebelum kami menghadiri acara itu, aku dan ipar berencana untuk membeli oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta. Tidak adanya kendaraan membuat kami memutuskan untuk naik becak. kemungkinan setengah hari becak dan tukangnya kami sewa untuk mencari oleh-oleh.
          
          Di kota - kota kecil seperti Tegal ini, transportasi yang paling banyak memang Tegal, namun aku selalu terenyuh ketika melihat orang yang ada di belakang becak tersebut sesosok pria tua renta, dengan kulit keriput dan rambut penuh dengan uban. Kemana anak-anak mereka sehingga membiarkan bapaknya yang sudah sepuh harus bekerja, mengayuh becak dengan peluh bercucuran karena kepanasan dan kelelahan mengayuh becak. Tak tega, tapi kami tetap harus menaikki becak tersebut.

          Aku, ipar dan ponakankulah yang pergi mencari oleh-oleh. berhubung ipar dan ponakanku memiliki badan yang cukup subur, antara tak tega dan kasihan tapi tetap harus menaiki becak tersebut. Sepanjang jalan, iparku bicara padaku.
Ipar  : Na, gak tega nih mba, tukang becaknya kuat gak ya?
Aku  : Iya ya mba, kasian sih, tapi gimana lagi.. Dia juga pasti butuh untuk biaya hidup.
Ipar  : Adek sih ikut segala, makin keberatan deh becaknya (sambil bercanda pada anaknya)
Aku  : Haha, iya adek ndut sih (aku ikut menggoda ponakanku).

Ipar  : Pak, masih kuat? kalau capek kita berhenti dulu gak apa kok Pak. (spontan mbakku bicara pada si tukang becak)
Tukang becak  : Mboten nopo-nopo mba. esih kuat.

          Hampir 6 tempat kami kunjungi, dari tempat telor asin, tahu murni, pia, dan pasar pagi. Dan kami masih menggunakan becak yang sama. Tak tega, tapi mau bagaimana lagi. Tukang becak hanya dapat menuruti kami sebagai penumpangnya.

         Sampailah kami di rumah sepupu tempat kami menginap. Sudah ipar, ponakan dan aku berat, ditambah oleh-oleh kami yang cukup banyak, hanya menggunakan satu becak saja, napas terengah begitu terdengar ditelinga kami. Napas yang sangat lelah dan kecapekan dari si tukang becak.

Ipar  : Pinten Pak?
Tukang becak  : Seket mba (50 mba)
Ipar  : Iki, aku tambahin rongpuluh ewu (20rb) ya Pak.
Tukang becak : walah, maturnuwun mba, maturnuwun sanget nggih (terima kasih, terima kasih sekali ya)

          Ipar dan aku begitu terenyuh melihat itu. Tukang becak yang menerima lebihan dari ongkosnya sangat senang, bercampur dengan haru. Aku begitu sedih melihat tukang-tukang becak yang tua renta tapi harus tetap berjuang bekerja banting tulang untuk dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Seharusnya umur segitu beliau sudah harus nyaman dan tenang di rumah, tanpa harus capek-capek mencari uang.

          ya Allah, hamba bersyukur dengan nikmat yang telah Engkau berikan. Semoga semua yang bekerja dengan tulus ikhlas dan pantang menyerah kelak mendapat balasan dariMu ya Allah. Kuatkanlah kami, bantu kami melewati segala bentuk ujian yang Engkau berikan, bantu kami menyelesaikan semua masalah yang menghampiri kami. Semoga memberikan semua yang terbaik diantara yang paling baik.

Semoga kisah ini menginspirasi dan bermanfaat.

Kamis, 14 Agustus 2014

Menunggu

      Menunggu. Hal yang paling aku benci namun harus selalu aku lakukan. Mungkin rasanya tidak adil karena aku merasa menjadi orang yang selalu menunggu. Detik, menit bahkan sampai jam aku menunggu. Kesal! itu yang aku rasakan ketika pada akhirnya aku harus menunggu untuk waktu yang cukup lama.

      Tak pernah ku sesali, karena secara tidak langsung menunggu adalah belajar bersabar terhadap sesuatu. Tak ingin penantianku dalam menunggu menjadi sia-sia hanya karena keluhanku yang panjang namun tak berasalan. Menunggu membuatku tahu akan artinya pengorbanan terhadap suatu hal, dimana pada akhirnya Allah lah yang akan membalas itu semua. Menunggu membuatku belajar mengerti keikhlasan.

      Mungkin itu pula yang  terjadi pada kisah cintaku. Menunggu kepastian dan kejelasan dari kekasihku. Menunggu penantian panjang hubungan ini. Akan bermuara kemanakah pada akhirnya hubungan yang telah tahunan ku jalin dengannya??? Apakah penantianku menunggunya akan membuahkan hasil??? Apakah penantianku tak kan sia-sia??? Apakah semua rasa sayang yang aku berikan padanya akan membuatnya memberi kepastian dan kejelasan padaku kelak??? Menunggu. Ya lagi-lagi itu yang harus aku lakukan.. Menanti dengan sabar, ikhlas, dan siap dengan apapun hasilnya kelak. 

      Bismillahirrohmanirrohim. Hanya Allah yang tahu itu. Aku hanya berdoa semoga Allah selalu menemani setiap penantian yang aku lakukan. Selalu membantuku melewati penantian panjangku. Selalu membimbingku untuk dapat mengukuhkan hati dan mempersiapkan hati ini dengan penuh keikhlasan. Selalu ada untuk mempersiapkan dengan segala kemungkinan, baik atau buruk. Apapun itu, Allah tahu apa yang aku butuhkan. Semoga penantian panjang ini akan berakhir dan tentunya indah. Aamiin.

Senin, 04 Agustus 2014

Pertanyaan Untuk Allah

Selasa, 5 Agustus 2014

      Hello my blog.. ini hari kedua masuk kerja setelah libur satu  minggu untuk idul fitri. Semua pasti masih  merasakan rasa malas dan masih terbayang-bayang liburan panjang kemarin. Satu minggu full aku bersama ibukku, tak banyak jalan dan keliling karena banyak sanak saudara yang datang berkunjung ke rumah ibu. Satu minggu pula aku tak bertemu kekasihku Adit. Rindupun menyerang, namun senin kemarin, sudah ku bertemu dengannya, dijemputnya aku sepulang dari kerja. Alhamdulillah kami masih diberi kesempatan untuk menjalani hubungan ini.

      Ada suatu hal yang mengusik pikiranku. Ada banyak tanya yang mendatangi benakku. Dari dulu tak pernah ku temui hal-hal mistis yang dapat menyerang manusia. Banyak tontonan-tontonan di televisi yang aku anggap hanyalah tipuan belaka. Sampai pada suatu ketika, hal itu datang dan mengganggu orang terdekatku. Suatu hal yang aku tak pernah percaya dan tak mungkin terjadi, tapi itu benar adanya terjadi. Hal-hal diluar nalarku, hal -hal yang tak dapat ku cerna, hal-hal aneh. Kenapa ya Allah?? kenapa?? Engkaulah Maha Besar, Maha Segalanya..

       Allah,, apa yang harus dilakukan demi hal itu tak terjadi lagi? Ibadah sudah, zakat sudah, berbuat baik sudah. Apalagi Allah? Aku sedih melihat hal itu menimpa orang terdekatku. Aku percaya tak ada kekuatan yang lebih besar lagi dibanding kekuatanMu. Aku tahu ujian yang Kau berikan semata-mata hanya untuk melihat kami apakah kami dapat melewatinya atau tidak, dan aku tahu bahwa ujian Kau berikan karena Kau tahu justru kami dapat melewatinya. Tapi sampai kapan Allah?? Tak ibakah Kau pada kami?

      Dalam diam ku merenung, memikirkan semua yang telah terjadi. Berharap ini hanyalah mimpi buruk belaka dan sekarang terbangun untuk melanjutkan hidup yang indah. Semoga kami tak pernah berputus asa memohon pertolonganMu ya Allah, karena kami tahu, Engkau selalu menyukai UmatMu yang tak pernah henti mengingatMu. Ya Allah, lindungi kami semua dari segala marabahaya, dari segala godaan-godaan syaiton yang terkutuk. Bantu kami melewati segala bentuk ujian dan cobaan yang Engkau berikan. Kupasrahkan diri ini atas segala bentuk ketentuanMu ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang  yang kufur atas nikmatMu. Bantu kami untuk selalu bersyukur atas apa yang kami terima. Kami percaya, Engkau tahu yang terbaik untuk kami, dan akan Kau janjikan keindahan hidup jika kami selalu berdoa, memohon padaMu. Aamiin..

Senin, 21 Juli 2014

Pasrahkan Semua pada Allah

       Tahun ini akan menjadi tahun ke-4 hubunganku dengan kekasihku, Adit. Tak terpungkiri pernikahan adalah obrolan yang selalu kami perbincangkan. Aku juga tidak bohong bahwa jauh dalam lubuk hatiku terdalam, aku selalu memikirkan hal itu. Belum lagi banyak orang, keluarga, teman dan sahabat yang tak pernah henti menanyakan "kapan nikah?" . Jawabku hanya "hehe, belum nih, doakan saja". Padahal aku sendiripun tak tahu apakah hal itu akan terjadi dengan Adit. Sering aku dibuatnya excited dan bersemangat membicarakan pernikahan, tapi sering pula dia membuatku down, terpuruk dan sedih membicarakan hal itu.
      
          Disisi lain, aku tidak ingin cepat-cepat mengakhiri masa lajangku, karena aku belum membahagiakan ibukku, tapi disisi lain lagi, aku tidak ingin ada fitnah dan omongan-omongan tidak enak yang melihat kebersamaan kami. Ibu memang menyerahkan sepenuhnya kepadaku, karena dia hanya ingin melihat anaknya bahagia. Aku juga tidak ingin seperti kakak-kakakku, yang baru saja lulus, belum kerja lama, tahu-tahu menikah. Ibu bilang padaku bahwa dia masih rindu dengan kebersamaannya dengan anaknya, tapi lagi-lagi ibu mengalah. Ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia.

        Setiap hari ibukku selalu bertanya tentangku dan Adit. Bagaimana kelanjutan hubungan kami, bagaimana keluarga Adit memandangku, bagaimana pernikahan yang akan kami jalani, dan banyak hal lainnya. Entahlah, akupun bingung. Obrolan pernikahan sudah sering kami bicarakan, tapi tak ada tanda-tanda Adit dan keluarganya akan mendatangi aku dan keluarganya untuk bicara lebih lanjut. Sampai pada saat, ibu memberanikan bertanya pada Adit. Ibu memang tak pandai bicara, sehingga aku memperjelas apa yang ibu tanyakan pada Adit. dan Bloommm..... Adit diam tanpa kata. Kesal, sedih, sakit hati. Itu yang aku rasakan.

         Kuberanikan bertanya lagi padanya, dengan sekuat tenaga menahan air mata yang hampir tumpah. Dia bilang : orang tuaku belum bilang iya, aku gak bisa jawab karena aku memang gak tahu harus jawab apa. Aku hanya ingin jika semua ini terjadi, ini adalah restu orang tua dan Allah. Aku tidak mau menyesal ketika kita sudah berumah tangga, lebih baik kamu sakit sekarang daripada sakit ketika kita sudah bersama. Aku butuh penguat dan keyakinan lebih lagi tentangmu dari orang tuaku. Aku harap kamu bisa bersabar dan siap bertemu dengan orang tuaku.

          Seperti ada petir yang sangat besar menyambar hatiku, mengagetkan dan begitu mengerikan. Apakah itu tandanya jika orang tuanya tidak menyukaiku, kami harus putus di tengah jalan begitu saja? meskipun dia diam, aku tahu dari wajahnya dan jawabanya adalah iya. Kutahan sekuat tenaga, menjaga genangan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk mataku supaya tidak jatuh. Aku tak ingin terlihat lemah , meskipun aku tahu dia paham diriku. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya, bahwa dia tidak bisa memberi jawaban sesuai dengan apa yang aku harapkan, dia meminta aku untuk mengerti akan kondisi dia.

        Banyak tanya dalam benakku. Segala macam hal yang aku lakukan, segala perubahan yang terjadi dalam diriku, segala usaha yang aku perbuat, semua yang aku lakukan demi dia, demi dia menerimaku, demi dia menyukaiku, apa itu semua tak cukup membuatnya untuk memperjuangkan hubungan kami jika terhalang kendala orang tua??? dan jawabannya memang tidak. Entahlah. Ini memang jalanMu. Aku hanya bisa pasrah. Aku hanya berdoa jika memang Adit bukan jodohku kelak, kuharap aku dapat melewati semuanya dengan baik dan tetap hidup dengan baik.

        Semua milik Allah, semua kembali pada Allah, semua memasrahkan diri pada Allah. Usahaku sekarang hanyalah berdoa padaMu ya Allah. Sisanya, semua kuserahkan padaMu. aku hanya wanita dewasa di umur dan belum dewasa di sikap dan kelakuan, yang hanya ingin dapat hidup bahagia juga mendapat RidhaMu, yang hanya ingin memiliki pendamping hidup yang bisa dan mau menerima segala bentuk kekuranganku. Wanita yang hanya ingin di cintai dan disayangi bukan karena kasihan tapi karena memang memiliki perasaan yang sama. Sudah cukup aku mengalami sakitnya karena lelaki, tapi semua memang rencanaMu, aku hanya berdoa semoga aku semakin sabar, semakin kuat lagi dan semakin tegar. Aku hanyalah wanita yang tak memiliki kesempurnaan.

         Dear Allah, bimbinglah aku, bantu aku untuk dapat melewati semua ini. Yakinkan aku bahwa semua ujian dariMu pasti dapat kulewati. Mohon tambah lagi kesabaran dalam diri ini, bantu aku mengurangi keluhanku. Hanya untukMu, untukMu ya Allah. Kupasrahkan diri ini dan tetap kuberdoa, beri petunjuk yang terbaik untukku dan Adit, kami masih berharap diberi kebersamaan sampai kami menikah nanti, dan aku sendiri berharap, Adit akan memperjuangkanku menjadi pendamping hidupku. aamiin.