Senin, 29 September 2014

Bapak Tua Renta dan Becaknya

          Hari itu aku sedang liburan di kota kelahiran Ibukku yaitu di Tegal, kota yang terletak di Jawa Tengah. Aku ke Tegal bersama dengan kakak dan iparku untuk menghadiri acara pernikahan salah satu saudara kami. Sebelum kami menghadiri acara itu, aku dan ipar berencana untuk membeli oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta. Tidak adanya kendaraan membuat kami memutuskan untuk naik becak. kemungkinan setengah hari becak dan tukangnya kami sewa untuk mencari oleh-oleh.
          
          Di kota - kota kecil seperti Tegal ini, transportasi yang paling banyak memang Tegal, namun aku selalu terenyuh ketika melihat orang yang ada di belakang becak tersebut sesosok pria tua renta, dengan kulit keriput dan rambut penuh dengan uban. Kemana anak-anak mereka sehingga membiarkan bapaknya yang sudah sepuh harus bekerja, mengayuh becak dengan peluh bercucuran karena kepanasan dan kelelahan mengayuh becak. Tak tega, tapi kami tetap harus menaikki becak tersebut.

          Aku, ipar dan ponakankulah yang pergi mencari oleh-oleh. berhubung ipar dan ponakanku memiliki badan yang cukup subur, antara tak tega dan kasihan tapi tetap harus menaiki becak tersebut. Sepanjang jalan, iparku bicara padaku.
Ipar  : Na, gak tega nih mba, tukang becaknya kuat gak ya?
Aku  : Iya ya mba, kasian sih, tapi gimana lagi.. Dia juga pasti butuh untuk biaya hidup.
Ipar  : Adek sih ikut segala, makin keberatan deh becaknya (sambil bercanda pada anaknya)
Aku  : Haha, iya adek ndut sih (aku ikut menggoda ponakanku).

Ipar  : Pak, masih kuat? kalau capek kita berhenti dulu gak apa kok Pak. (spontan mbakku bicara pada si tukang becak)
Tukang becak  : Mboten nopo-nopo mba. esih kuat.

          Hampir 6 tempat kami kunjungi, dari tempat telor asin, tahu murni, pia, dan pasar pagi. Dan kami masih menggunakan becak yang sama. Tak tega, tapi mau bagaimana lagi. Tukang becak hanya dapat menuruti kami sebagai penumpangnya.

         Sampailah kami di rumah sepupu tempat kami menginap. Sudah ipar, ponakan dan aku berat, ditambah oleh-oleh kami yang cukup banyak, hanya menggunakan satu becak saja, napas terengah begitu terdengar ditelinga kami. Napas yang sangat lelah dan kecapekan dari si tukang becak.

Ipar  : Pinten Pak?
Tukang becak  : Seket mba (50 mba)
Ipar  : Iki, aku tambahin rongpuluh ewu (20rb) ya Pak.
Tukang becak : walah, maturnuwun mba, maturnuwun sanget nggih (terima kasih, terima kasih sekali ya)

          Ipar dan aku begitu terenyuh melihat itu. Tukang becak yang menerima lebihan dari ongkosnya sangat senang, bercampur dengan haru. Aku begitu sedih melihat tukang-tukang becak yang tua renta tapi harus tetap berjuang bekerja banting tulang untuk dapat menghidupi dirinya dan keluarganya. Seharusnya umur segitu beliau sudah harus nyaman dan tenang di rumah, tanpa harus capek-capek mencari uang.

          ya Allah, hamba bersyukur dengan nikmat yang telah Engkau berikan. Semoga semua yang bekerja dengan tulus ikhlas dan pantang menyerah kelak mendapat balasan dariMu ya Allah. Kuatkanlah kami, bantu kami melewati segala bentuk ujian yang Engkau berikan, bantu kami menyelesaikan semua masalah yang menghampiri kami. Semoga memberikan semua yang terbaik diantara yang paling baik.

Semoga kisah ini menginspirasi dan bermanfaat.