Tahun ini akan menjadi tahun ke-4 hubunganku dengan kekasihku, Adit. Tak terpungkiri pernikahan adalah obrolan yang selalu kami perbincangkan. Aku juga tidak bohong bahwa jauh dalam lubuk hatiku terdalam, aku selalu memikirkan hal itu. Belum lagi banyak orang, keluarga, teman dan sahabat yang tak pernah henti menanyakan "kapan nikah?" . Jawabku hanya "hehe, belum nih, doakan saja". Padahal aku sendiripun tak tahu apakah hal itu akan terjadi dengan Adit. Sering aku dibuatnya excited dan bersemangat membicarakan pernikahan, tapi sering pula dia membuatku down, terpuruk dan sedih membicarakan hal itu.
Disisi lain, aku tidak ingin cepat-cepat mengakhiri masa lajangku, karena aku belum membahagiakan ibukku, tapi disisi lain lagi, aku tidak ingin ada fitnah dan omongan-omongan tidak enak yang melihat kebersamaan kami. Ibu memang menyerahkan sepenuhnya kepadaku, karena dia hanya ingin melihat anaknya bahagia. Aku juga tidak ingin seperti kakak-kakakku, yang baru saja lulus, belum kerja lama, tahu-tahu menikah. Ibu bilang padaku bahwa dia masih rindu dengan kebersamaannya dengan anaknya, tapi lagi-lagi ibu mengalah. Ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia.
Setiap hari ibukku selalu bertanya tentangku dan Adit. Bagaimana kelanjutan hubungan kami, bagaimana keluarga Adit memandangku, bagaimana pernikahan yang akan kami jalani, dan banyak hal lainnya. Entahlah, akupun bingung. Obrolan pernikahan sudah sering kami bicarakan, tapi tak ada tanda-tanda Adit dan keluarganya akan mendatangi aku dan keluarganya untuk bicara lebih lanjut. Sampai pada saat, ibu memberanikan bertanya pada Adit. Ibu memang tak pandai bicara, sehingga aku memperjelas apa yang ibu tanyakan pada Adit. dan Bloommm..... Adit diam tanpa kata. Kesal, sedih, sakit hati. Itu yang aku rasakan.
Kuberanikan bertanya lagi padanya, dengan sekuat tenaga menahan air mata yang hampir tumpah. Dia bilang : orang tuaku belum bilang iya, aku gak bisa jawab karena aku memang gak tahu harus jawab apa. Aku hanya ingin jika semua ini terjadi, ini adalah restu orang tua dan Allah. Aku tidak mau menyesal ketika kita sudah berumah tangga, lebih baik kamu sakit sekarang daripada sakit ketika kita sudah bersama. Aku butuh penguat dan keyakinan lebih lagi tentangmu dari orang tuaku. Aku harap kamu bisa bersabar dan siap bertemu dengan orang tuaku.
Seperti ada petir yang sangat besar menyambar hatiku, mengagetkan dan begitu mengerikan. Apakah itu tandanya jika orang tuanya tidak menyukaiku, kami harus putus di tengah jalan begitu saja? meskipun dia diam, aku tahu dari wajahnya dan jawabanya adalah iya. Kutahan sekuat tenaga, menjaga genangan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk mataku supaya tidak jatuh. Aku tak ingin terlihat lemah , meskipun aku tahu dia paham diriku. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya, bahwa dia tidak bisa memberi jawaban sesuai dengan apa yang aku harapkan, dia meminta aku untuk mengerti akan kondisi dia.
Banyak tanya dalam benakku. Segala macam hal yang aku lakukan, segala perubahan yang terjadi dalam diriku, segala usaha yang aku perbuat, semua yang aku lakukan demi dia, demi dia menerimaku, demi dia menyukaiku, apa itu semua tak cukup membuatnya untuk memperjuangkan hubungan kami jika terhalang kendala orang tua??? dan jawabannya memang tidak. Entahlah. Ini memang jalanMu. Aku hanya bisa pasrah. Aku hanya berdoa jika memang Adit bukan jodohku kelak, kuharap aku dapat melewati semuanya dengan baik dan tetap hidup dengan baik.
Semua milik Allah, semua kembali pada Allah, semua memasrahkan diri pada Allah. Usahaku sekarang hanyalah berdoa padaMu ya Allah. Sisanya, semua kuserahkan padaMu. aku hanya wanita dewasa di umur dan belum dewasa di sikap dan kelakuan, yang hanya ingin dapat hidup bahagia juga mendapat RidhaMu, yang hanya ingin memiliki pendamping hidup yang bisa dan mau menerima segala bentuk kekuranganku. Wanita yang hanya ingin di cintai dan disayangi bukan karena kasihan tapi karena memang memiliki perasaan yang sama. Sudah cukup aku mengalami sakitnya karena lelaki, tapi semua memang rencanaMu, aku hanya berdoa semoga aku semakin sabar, semakin kuat lagi dan semakin tegar. Aku hanyalah wanita yang tak memiliki kesempurnaan.
Dear Allah, bimbinglah aku, bantu aku untuk dapat melewati semua ini. Yakinkan aku bahwa semua ujian dariMu pasti dapat kulewati. Mohon tambah lagi kesabaran dalam diri ini, bantu aku mengurangi keluhanku. Hanya untukMu, untukMu ya Allah. Kupasrahkan diri ini dan tetap kuberdoa, beri petunjuk yang terbaik untukku dan Adit, kami masih berharap diberi kebersamaan sampai kami menikah nanti, dan aku sendiri berharap, Adit akan memperjuangkanku menjadi pendamping hidupku. aamiin.