Kamis, 21 November 2013

My Hijab

15:39 lokasi di kantor.

Hemm.. lupa deh kalo sekarang aku udah berhijab. hijab ini mulai menutupi kepala sebelum bulan puasa kemarin di 2013. Rasanya pake hijab itu... apa yaa.. entahlah.. mungkin sekarang kalo gak pake hijab kaya ada yang hilang. ciee... hehe
Kalo ditanya dapet hidayah apa sekarang berhijab ya gak tau harus jawab apa. Ngerasa gak dapet hidayah apa-apa soalnya. Tapi klo ada perasaan malu ya iya. Malu karena belum berhijab. Sempet baca suatu artikel kalo hijab itu adalah kewajiban buat para perempuan yang udah balig/dewasa, dan kalo mau pake hijab itu nunggu imannya kuat ya gak bakal bisa nilai iman kita kapan kuatnya. Ya yang nilai kan Allah. Selain itu,
Jadi, berhijablah sekarang aku. Hijab yang ternyata gak segampang yang terlihat. Dan aku cuma bisa gaya hijab yang itu-itu aja, gak bisa yang lain :(
Tapi gak apa-apa, semua butuh proses, toh Allah bukan liat gimana cara kita berhijab, tapi seberapa istiqomah kita untuk berhijab :)
Alhamdulillah, aku  mendapat banyak dukungan, dan banyak yang suka dengan aku berhijab.

Mudahkan jalanku untuk mendapat RidhoMu ya Allah dan semoga aku dapat beristiqomah. Amin.

I love hijab :)

Rabu, 13 November 2013

Thank You Mommy, My Wonderwoman in Our Life.

Saya anak ke-5 dari 5 bersaudara. Anak perempuan sendiri. Dilahirkan pada 30 Juni 1990 dari pasangan suami istri yang berbeda 13 tahun saat menikah dulu. Keluarga kami adalah keluarga besar, keluarga yang ramai, keluarga yang bahagia. Sampai pada suatu ketika bapak kami sakit. Sakit yang di deritanya adalah sakit yang membuat dirinya harus keluar masuk rumah sakit, dan pada akhirnya kebahagiaan kami direnggut oleh sakit itu. Bapak kami pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi canda, tak ada lagi teriakan panggilan bapak, tak ada lagi teman tidur bagi ibu, tak ada lagi sosok yang selalu menjagaku ketika aku diganggu oleh teman-teman jahilku. Dan mulai saat itu, Ibu menjadi orang tua tunggal bagi kami ber-5, ibu sekaligus bapak yang harus menghidupi dan berjuang untuk kami.
Ketika bapak pergi, kakak pertamaku Alhamdulillah sudah bekerja, meskipun gajinya belum seberapa, kakak keduaku masih mencari pekerjaan, sehingga pekerjaan apapun yang ditawarkan akan dia ambil, kakak ketigaku masih kuliah di Bandung, kakak keempatku masih SMA, dan aku masih SD. Ketika aku menulis ini, aku membayangkan betapa berat hidup ibuku, berjuang sendiri menafkahi keluarganya tanpa sang suami, dan hanya seorang ibu rumah tangga.
Sedikit flashback, ketika saat menyedihkan itu datang ke keluarga kami, saat dimana bapak harus dipanggil ke surga, menempati tempat terindah bersamaNya. Rasanya begitu sedih melihat ibuku yang terduduk lemah tak berdaya disamping jenazah bapak, membacakan ayat kursi sambil sesenggukan dengan air mata deras mengucur dari matanya. Berusaha tegar dan kuat namun aku tahu bahwa ibu begitu kehilangan bapak. Sosok yang sangat ibu cintai, meskipun perbedaan umur mereka yang cukup jauh, tapi aku tahu ibu sangat mencintai bapak. Sepanjang hubungan pernikahan bapak dan ibu, aku tidak pernah melihat ada keributan, kecil saja tidak apalagi besar. Air mata itu terus mengucur deras dari kedua pelupuk mata ibu, tanpa henti. Berkali-kali ibu pingsan karena tak sanggup kehilangan bapak. Berkali-kali ibu teriak memanggil bapak. Bahwa, ibu belum bisa terima kepergian bapak. Sampai pada saat pemakaman bapak, ibu pingsan lagi dan benar-benar tak berdaya ketika keranda bapak di bawa oleh pelayat. Ibupun tidak menyaksikan pemakaman bapak saat itu. Hanya kami ber-5 yang menemani bapak beserta pelayat yang lain.
2 bulan berlalu..
Ibu harus meneruskan hidupnya. Harus meneruskan perjuangannya mencari nafkah. Harus berjuang menguatkan dirinya di depan anak-anaknya. Yang aku tahu, ibu hanya hidup dari uang pensiunan bapak, yang dikala itu adalah PNS, juga dari sedikit uang dari kakakku yang sudah bekerja. Selain itu, ibu berusaha mendapatkan uang dengan menggadaikan apapun barang berharga yang dia punya. Ikut arisan kecil-kecilan, pinjam sana-sini. 3 anaknya masih butuh dana untuk menyelesaikan pendidikannya. Kala itu, karena aku masih belum dewasa, aku tidak pernah mengerti bagaimana cara ibu mendapatkan uang. Yang aku tahu hanyalah aku ingin terus sekolah dan masuk sekolah pilihan bapakku dulu. Ibu selalu membuat kami percaya bahwa semua pasti beres. Padahal, untuk mendapatkan uang ibu butuh perjuangan yang besar, karena ibu hanyalah ibu rumah tangga.
Waktu terus berputar, tahun berganti, kami hidup tanpa didikan seorang bapak. Yang kami tahu, ibu kami adalah bapak kami. Begitu hebatnya ibu, satu-persatu anaknya yang masih sekolah bisa menjadi sarjana. Kami ber-5 anak ibu dan bapak bisa menjadi seorang sarjana, pendidikan yang lebih tinggi dari kedua orang tua kami. Ibu begitu terharu dengan keadaan itu. Ibu begitu bangga, single parent, ibu rumah tangga, pendidikan terakhir SMK, ke-5 anaknya adalah sarjana. Kami bisa sampai pada tahap itu berkat perjuangan ibu, doa ibu. Bahwa kami tahu, doa orang tua adalah yang paling manjur dalam hidup anaknya. Ibupun bisa pergi haji karena uangnya sendiri, padahal anak ibu 5, kami begitu malu. Bahkan ibu bisa badal hajikan bapak. Itu juga dengan uang hasil arisan. Begitu bangga aku mempunyai ibu seperti itu. Ibu begitu hebat. Ibu begitu tangguh dan kuat. Dipikiran ibu, hanya ingin membantu orang, padahal ibu tahu, membantu dirinya sendiri saja butuh perjuangan. Mungkin itu yang membuat rejeki ibu tanpa henti terus mengalir. Bahwa setiap rejeki yang dia dapat tak lupa selalu membantu orang sekitar yang membutuhkan, dan rejeki itu berbalik lagi, ada saja rejeki ketika ibu butuh uang. Begitu Allah sangat menyayangi ibuku. Ibuku adalah panutan hidupku. Ibuku selalu mengajarkan pasrahlah pada Allah, memohonlah pada Allah, berpikirlah selalu positif, nurutlah pada orang tuamu selagi ada, insya Allah jalanmu akan selalu di Ridhai oleh Allah. Itu yang selalu terngiang di kupingku.
Saat ini aku bisa bekerja, bisa mempunyai penghasilan sendiri, bisa berada di ruangan kerja ini adalah karena doa tak henti dari ibuku. Ibu yang selalu menyebutkan nama-nama anaknya di setiap doa disujudnya dalam sepertiga malamnya dan semua solatnya. Ibu yang selalu ikhlas merawat anaknya ketika anaknya mengeluhkan sakit. Ibu yang selalu memasak setiap hari untuk makan anaknya. Ibu yang tak pernah mengharapkan balasan apapun dari anaknya, hanya Ridha Allah yang dia inginkan. Ibu yang hanya meminta dapat mengemban hajinya supaya mabrur. Ibu yang hanya meminta kesehatan untuk dapat selalu mendampingi anaknya.
Ibu Ibu Ibu Ibu, tak akan pernah bisa kami semua membalasnya, perjuangan hidupmu adalah tauladan bagi kami. Hanya doa terbaik yang bisa kami panjatkan untuk Ibu. Hanya maaf yang bisa kami ucapkan ketika kami pernah menyakiti hati ibu. Hanya kasih sayang yang tak lebih besar dari kasih sayangmu untuk kami yang bisa kami berikan. Kami hanya ingin membuat ibu berkata “Ibu bangga mempunyai anak seperti kalian, ibu sayang kalian, teruslah berjuang untuk meraih masa depan kalian”. Ibu hanya mau ketika kami sukses, jangan pernah lupakan orang sekitar, berbagilah karena dengan berbagi rejekimu bisa semakin berkah.
Ibu.. Kasih ibu sepanjang masa. Tak lekang oleh waktu. Takkan termakan zaman. Tulus ikhlas merawat dan menjaga kami. Ibu yang tangguh dengan segala ujian hidup kau jalani. Tak pernah ada sedikitpun rasa lelah memperjuangkan apa saja demi hidup yang layak untuk kami. Entah apalagi yang harus kami lakukan untuk membalas, karena kami takkan bisa membalasnya..
Terimakasih Ibu. Terimakasih untuk semua yang tak bisa kami sebutkan, karena begitu tak terhingga yang kau berikan untuk kami. Terimakasih telah melahirkan kami. Terimakasih telah merawat kami. Terimakasih telah membesarkan kami sampai pada saat ini. Meskipun kami belum dapat sepenuhnya membahagiakan ibu, tapi Insya Allah hal itu akan berusaha kami lakukan. Terimakasih Ibu. Seribu, sejuta, semiliar kata terimakasihpun takkan ada artinya dengan pengorbanan dan perjuanganmu. Tetaplah menjadi wonderwoman bagi kami. Kami sayang Ibu. Sekarang, nanti dan selamanya.. 


Kakak 3 (Desto), Kakak 4 (Pujo), Aku (Ratna), Ibu, Kakak 2 (Sony), Kakak 1 (Miko)