Saya
anak ke-5 dari 5 bersaudara. Anak perempuan sendiri. Dilahirkan pada 30 Juni
1990 dari pasangan suami istri yang berbeda 13 tahun saat menikah dulu.
Keluarga kami adalah keluarga besar, keluarga yang ramai, keluarga yang
bahagia. Sampai pada suatu ketika bapak kami sakit. Sakit yang di deritanya
adalah sakit yang membuat dirinya harus keluar masuk rumah sakit, dan pada
akhirnya kebahagiaan kami direnggut oleh sakit itu. Bapak kami pergi
meninggalkan kami untuk selamanya. Tak ada lagi tawa, tak ada lagi canda, tak
ada lagi teriakan panggilan bapak, tak ada lagi teman tidur bagi ibu, tak ada
lagi sosok yang selalu menjagaku ketika aku diganggu oleh teman-teman jahilku.
Dan mulai saat itu, Ibu menjadi orang tua tunggal bagi kami ber-5, ibu
sekaligus bapak yang harus menghidupi dan berjuang untuk kami.
Ketika
bapak pergi, kakak pertamaku Alhamdulillah sudah bekerja, meskipun gajinya
belum seberapa, kakak keduaku masih mencari pekerjaan, sehingga pekerjaan apapun
yang ditawarkan akan dia ambil, kakak ketigaku masih kuliah di Bandung, kakak
keempatku masih SMA, dan aku masih SD. Ketika aku menulis ini, aku membayangkan
betapa berat hidup ibuku, berjuang sendiri menafkahi keluarganya tanpa sang
suami, dan hanya seorang ibu rumah tangga.
Sedikit
flashback, ketika saat menyedihkan itu datang ke keluarga kami, saat dimana
bapak harus dipanggil ke surga, menempati tempat terindah bersamaNya. Rasanya
begitu sedih melihat ibuku yang terduduk lemah tak berdaya disamping jenazah
bapak, membacakan ayat kursi sambil sesenggukan dengan air mata deras mengucur
dari matanya. Berusaha tegar dan kuat namun aku tahu bahwa ibu begitu
kehilangan bapak. Sosok yang sangat ibu cintai, meskipun perbedaan umur mereka
yang cukup jauh, tapi aku tahu ibu sangat mencintai bapak. Sepanjang hubungan
pernikahan bapak dan ibu, aku tidak pernah melihat ada keributan, kecil saja
tidak apalagi besar. Air mata itu terus mengucur deras dari kedua pelupuk mata
ibu, tanpa henti. Berkali-kali ibu pingsan karena tak sanggup kehilangan bapak.
Berkali-kali ibu teriak memanggil bapak. Bahwa, ibu belum bisa terima kepergian
bapak. Sampai pada saat pemakaman bapak, ibu pingsan lagi dan benar-benar tak
berdaya ketika keranda bapak di bawa oleh pelayat. Ibupun tidak menyaksikan
pemakaman bapak saat itu. Hanya kami ber-5 yang menemani bapak beserta pelayat
yang lain.
2
bulan berlalu..
Ibu
harus meneruskan hidupnya. Harus meneruskan perjuangannya mencari nafkah. Harus
berjuang menguatkan dirinya di depan anak-anaknya. Yang aku tahu, ibu hanya
hidup dari uang pensiunan bapak, yang dikala itu adalah PNS, juga dari sedikit
uang dari kakakku yang sudah bekerja. Selain itu, ibu berusaha mendapatkan uang
dengan menggadaikan apapun barang berharga yang dia punya. Ikut arisan
kecil-kecilan, pinjam sana-sini. 3 anaknya masih butuh dana untuk menyelesaikan
pendidikannya. Kala itu, karena aku masih belum dewasa, aku tidak pernah
mengerti bagaimana cara ibu mendapatkan uang. Yang aku tahu hanyalah aku ingin
terus sekolah dan masuk sekolah pilihan bapakku dulu. Ibu selalu membuat kami
percaya bahwa semua pasti beres. Padahal, untuk mendapatkan uang ibu butuh
perjuangan yang besar, karena ibu hanyalah ibu rumah tangga.
Waktu
terus berputar, tahun berganti, kami hidup tanpa didikan seorang bapak. Yang
kami tahu, ibu kami adalah bapak kami. Begitu hebatnya ibu, satu-persatu
anaknya yang masih sekolah bisa menjadi sarjana. Kami ber-5 anak ibu dan bapak
bisa menjadi seorang sarjana, pendidikan yang lebih tinggi dari kedua orang tua
kami. Ibu begitu terharu dengan keadaan itu. Ibu begitu bangga, single parent,
ibu rumah tangga, pendidikan terakhir SMK, ke-5 anaknya adalah sarjana. Kami bisa
sampai pada tahap itu berkat perjuangan ibu, doa ibu. Bahwa kami tahu, doa
orang tua adalah yang paling manjur dalam hidup anaknya. Ibupun bisa pergi haji
karena uangnya sendiri, padahal anak ibu 5, kami begitu malu. Bahkan ibu bisa
badal hajikan bapak. Itu juga dengan uang hasil arisan. Begitu bangga aku
mempunyai ibu seperti itu. Ibu begitu hebat. Ibu begitu tangguh dan kuat.
Dipikiran ibu, hanya ingin membantu orang, padahal ibu tahu, membantu dirinya
sendiri saja butuh perjuangan. Mungkin itu yang membuat rejeki ibu tanpa henti
terus mengalir. Bahwa setiap rejeki yang dia dapat tak lupa selalu membantu
orang sekitar yang membutuhkan, dan rejeki itu berbalik lagi, ada saja rejeki
ketika ibu butuh uang. Begitu Allah sangat menyayangi ibuku. Ibuku adalah
panutan hidupku. Ibuku selalu mengajarkan pasrahlah pada Allah, memohonlah pada
Allah, berpikirlah selalu positif, nurutlah pada orang tuamu selagi ada, insya
Allah jalanmu akan selalu di Ridhai oleh Allah. Itu yang selalu terngiang di
kupingku.
Saat
ini aku bisa bekerja, bisa mempunyai penghasilan sendiri, bisa berada di
ruangan kerja ini adalah karena doa tak henti dari ibuku. Ibu yang selalu
menyebutkan nama-nama anaknya di setiap doa disujudnya dalam sepertiga malamnya
dan semua solatnya. Ibu yang selalu ikhlas merawat anaknya ketika anaknya
mengeluhkan sakit. Ibu yang selalu memasak setiap hari untuk makan anaknya. Ibu
yang tak pernah mengharapkan balasan apapun dari anaknya, hanya Ridha Allah
yang dia inginkan. Ibu yang hanya meminta dapat mengemban hajinya supaya
mabrur. Ibu yang hanya meminta kesehatan untuk dapat selalu mendampingi anaknya.
Ibu
Ibu Ibu Ibu, tak akan pernah bisa kami semua membalasnya, perjuangan hidupmu
adalah tauladan bagi kami. Hanya doa terbaik yang bisa kami panjatkan untuk
Ibu. Hanya maaf yang bisa kami ucapkan ketika kami pernah menyakiti hati ibu.
Hanya kasih sayang yang tak lebih besar dari kasih sayangmu untuk kami yang
bisa kami berikan. Kami hanya ingin membuat ibu berkata “Ibu bangga mempunyai
anak seperti kalian, ibu sayang kalian, teruslah berjuang untuk meraih masa
depan kalian”. Ibu hanya mau ketika kami sukses, jangan pernah lupakan orang
sekitar, berbagilah karena dengan berbagi rejekimu bisa semakin berkah.
Ibu..
Kasih ibu sepanjang masa. Tak lekang oleh waktu. Takkan termakan zaman. Tulus
ikhlas merawat dan menjaga kami. Ibu yang tangguh dengan segala ujian hidup kau
jalani. Tak pernah ada sedikitpun rasa lelah memperjuangkan apa saja demi hidup
yang layak untuk kami. Entah apalagi yang harus kami lakukan untuk membalas,
karena kami takkan bisa membalasnya..
Terimakasih
Ibu. Terimakasih untuk semua yang tak bisa kami sebutkan, karena begitu tak
terhingga yang kau berikan untuk kami. Terimakasih telah melahirkan kami.
Terimakasih telah merawat kami. Terimakasih telah membesarkan kami sampai pada
saat ini. Meskipun kami belum dapat sepenuhnya membahagiakan ibu, tapi Insya
Allah hal itu akan berusaha kami lakukan. Terimakasih Ibu. Seribu, sejuta,
semiliar kata terimakasihpun takkan ada artinya dengan pengorbanan dan
perjuanganmu. Tetaplah menjadi wonderwoman bagi kami. Kami sayang Ibu.
Sekarang, nanti dan selamanya..
Kakak
3 (Desto), Kakak 4 (Pujo), Aku (Ratna),
Ibu, Kakak 2 (Sony), Kakak 1 (Miko)